eLearning Smart Invest

March 4, 2008

Cagaya

Filed under: Renungan, 2 Pusaka

ISTRI YANG SUCI (JALAN CAHAYA)

 

Siapakah engkau, istri, yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Kita hadir dari dimensi ruang dan waktu (kesilaman) yang berbeda, bahkan, saling tak mengenal. Tapi, kenapa disaat bersua, kita seketika saling
mempercayai untuk membangun kebersamaan, dalam perjalanan?

Sungguh, begitu mulia, mahligai pernikahan. Pernikahan membuat kita saling terbuka, saling mempercayai. Tak mengherankan, bila Allah menempatkan jodoh (penikahan) pada kelompok ilmu-Nya yang tak dapat disingkapkan secara pasti oleh hamba-Nya. Bayangkan, jika jodoh seperti juga kematian (roh), menjadi ilmu terbuka bagi hamba-Nya. Siapakah yang sudi memilih X yang masa kecilnya binal sebagai jodoh
(sama dengan seseorang yang telah mengetahui tanggal dan hari kematiannya, niscaya berhura-hura untuk kemudian bertaubat saat menjelang waktu kematiannya).

Berbeda dengan malaikat, Allah memberikan hawa-nafsu (dilatih untuk menjadi an-nafs al-muthma’innah) terhadap manusia, sekaligus perangkat untuk mengendalikannya. Nafsu biologis, misalkan, disalurkan melalui pernikahan bagi yang mampu, meniru Adam dan Hawa. Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok
tanam… (QS. 2:223). Begitu pentingnya pernikahan, Allah menurunkan pedoman bagi hambanya, seperti pada surah Al Baqarah.

Siapakah yang mengirimmu ke dalam kehidupanku, istri? Allah, betapa maha pengasih Dia, yang memberikanmu sebagaimana ketentuannya (sunnahtullah) agar mahluk hidup berpasang-pasangan. Tapi, kenapa di tengah rasa superioritas kaum pria, seringkali abai memahami bila
istri merupakan ‘pemberian’Nya? Betapa aku maupun kaumku, para lelaki yang merasa super, seringkali menghanguskanmu ke dalam api kemarahan.

Adakah superioritas kaum pria — terutama di masa jahiliyah — menyebabkan Allah memberikan perhatian khusus terhadap kaummu dengan menurunkan surat An-Nissa (wanita). Tak sekadar tuntunan menikah untuk berkembangbiak, di surat itu Dia memberikan pedoman tata cara memperlakukan kaummu, sebagai istri. Ini agar kaummu terhindar dari egoisme dan superioritas pria.

Di saat engkau berbaring di sisi tulang rusuk kiriku, betapa aku ingin merumuskan hakikatmu. Tapi, mengapa sulit merumuskanmu: engkau, mahluk yang kuat ketika lemah, begitu manja ketika tegar. Engkau, bahkan, lebih kuat menanggung penderitaan ketika sendirian. Sungguh berbeda dengan pria yang dicitrakan superior (adakah kekuatan pria justru menjadi kelemahan ketika ia ditinggalkan sendirian sehingga
cenderung mencari kembali pasangan hidupnya demi menyokong superioritasnya?)

Kodrat kaummu serba kontradiktif. Itukah penyebabnya Nabi SAW berfatwa, ‘’sesungguhnya wanita seumpama tulang rusuk yang bengkok. Bila kamu membiarkannya (bengkok) kamu memperoleh manfaatnya dan bila kamu berusaha meluruskannya maka kamu mematahkannya.'’ (HR.Aththahawi). Namun, bagiku, istri merupakan cobaan bagi suami. Tak mengherankan, jika Allah menentukan posisi suami sebagai pemimpin bagi perempuan. Begitu juga memberikan pedoman terhadap muslim untuk mendapatkan istri yang tidak berasal dari kaum musyrik. Janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman… (QS 2:221)

Mengapa demikian? Karena engkau, istri bersama kaummu, mendapatkan kemuliaan-Nya. Sekadar menyebut contoh, Allah bersifat rahman dan rahim. Perempuanlah yang memiliki (sifat) rahim. Di rahim, perlambang kasih, Allah menumbuhkan janin. Dengan kasih dari pemilik rahim, anak-anak tumbuh, menjadi muslim dan muslimah. Dengan anugerah
kemuliaan semacam itu, kenapa masih ada perempuan alpa pada kesucian makna rahim, justru ketika memiliki rahim? Sesungguhnya dunia seluruhnya benda dan sebaik-baiknya benda ialah wanita (istri) yang sholeh (HR. Muslim)

Betul, engkau istri, bukan pemimpin utama. Tapi, sesungguhnya engkau menentukan, ketika hanya menjadi posisi pendamping. Engkau, di saat menjadi istri yang suci, semestinya menjadi pengawas suami saat keliru melangkah. Siapa yang dapat mengukur air matamu yang berderai
di saat engkau berdoa memohon agar Allah menunjukkan jalan yang benar pada suami? Airmata yang selama ini dicitrakan sebagai kelemahan justru menjadi kekuatan untuk mengembalikan suami (keluarga) ke jalan yang benar.

Tapi, siapakah engkau, istri, yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Istri-istri yang suci justeru merupakan jalan bercahaya menuju-Nya. Kesucianmu (banyak buku mengupas kriteria istri saliha sebagai pedoman) menjadi suar di tengah keluarga (tempatmu berada) untuk membentuk keluarga sakinah. Cahayamu menerangi perjalanan menuju pada-Nya. Kesabaran dan keikhlasanmu mengelola rumah tangga membuat
para suami (keluarga) merasa khidmat untuk beribadah.

Sebaliknya, istri-istri ‘musyrik’, bagai lorong gelap yang menyesatkan. Karena itu, istri, jadilah engkau suci untuk menjadi jalan bercahaya bagi keluarga.

Wahai istri, di saat engkau menjadi jalan bercahaya, mengapa mesti menggantinya? Bukankah sejatinya, aku mencintaimu karena cintaku pada-Nya yang memuliakanmu, istri yang suci!

January 10, 2008

Infak

Filed under: Fiqh, Renungan

INFAK MENJAUHKAN DIRI DARI NERAKA 
 
Apa balasan bagi orang yang kikir? Di dunia mungkin ia akan hidup terisolasi dari manusia lain, sementara di akhirat ia pasti akan merugi. Sebuah kisah inspiratif dari adegan hidup Rasulullah Saw mungkin memberikan ibrah berarti. 
 
Tersebutlah seorang wanita yang datang menemui Rasul Muhammad Saw. Wanita tersebut datang tergesa. Semburat perih terpancar dari wajahnya. Berjalan dengan menunduk, sementara satu tangannya dimasukkan ke dalam saku gamisnya. 
 
Usai berucap salam kepada Rasul Saw, wanita ini mengaku sebagai seorang anak yang telah ditinggal mati kedua orang tuanya. Ia menahan rasa sakit yang amat sangat. Rasul mulia memperhatikan. Tak sabar beliau bertanya, “Apa yang terjadi terhadap tangan yang kau sembunyikan, wahai wanita?” 
Perempuan itu pun mengeluarkan tangannya sambil memelas, “Selamatkan aku wahai baginda!” 
 
Rasul terperangah saat memandang sepotong tangan yang rusak terbakar. Kulit terkelupas, sementara daging terkuak menyemburatkan bau anyir yang tidak sedap. Rasul Saw tak kuasa menahan diri untuk tidak bertanya, “Apa yang terjadi pada tanganmu ini?” 
 
Wanita itupun memulai cerita. Malam tadi ia bermimpi. Sebuah mimpi yang amat seram. Ia berdiri di tengah neraka. Terlihat di sana banyak manusia yang sedang disiksa dan berteriak histeris. Hatinya menjadi kalut dan panik saat melihat pemandangan yang begitu menyeramkan. Hampir ia turut berteriak….  
 
Sejurus kemudian kelebatan matanya tertumpu pada sesosok manusia yang turut disiksa. Ia kenal manusia itu, yang tiada lain adalah wanita yang telah melahirkannya di dunia. Ibunya ketika itu dalam kondisi kalut. Kobaran api tinggi berwarna biru mencoba menerkam dan menjilati tubuh. Namun rupanya ia masih memiliki 2 alat sebagai penangkal hingga kobaran api neraka tidak bisa melahapnya. Kedua alat yang ia miliki itu adalah sepotong keju dan secercah kain. Pemandangan yang mengherankan. 
 
Sambil berteriak, sang anak bertanya kepada ibu, “Ibu…. apa gerangan yang membuatmu tersiksa seperti ini. Bukankah engkau adalah wanita yang baik ketika di dunia dan berbakti kepada ayah?” Masih dalam kondisi kalut, si ibu berujar, “Aku tersiksa begini sebab aku selalu bakhil ketika hidup. Hanya dua benda ini saja, -ia menunjuk kepada keju dan kain yang ada di tangannya-,yang bisa menyelamatkan aku. Sudah jangan banyak bicara…. carilah jalan untuk menolongku, nak….!”  
 
Kepanikan ibu menjalar ke hati anaknya. Anak itu pun berlari hendak mencari pertolongan. “Oh iya…. Ayah!” ujarnya dalam hati. Ia pun pergi berlari kencang hendak mencari ayahnya demi minta pertolongan.  
Kesegenap penjuru mata angin ia mencari ayahnya. Terakhir, ia pun menjumpai ayahnya yang sedang hidup dalam kenikmatan surga. Bagai seorang raja, ayahnya diberi banyak kenikmatan oleh Allah Ta’ala. 
Dengan nafas tersengal sang anak berujar, “Ayah….! Kok bisa-bisanya sih ayah hidup enak di sini sementara ibu tengah menyabung nyawa menghadapi api neraka. Mengapa ayah tidak membantu ibu di sana?” Sang ayah menjawab dengan bijak, “Kami para penghuni surga dilarang Allah untuk menolong mereka yang berada di neraka. Ibu sedemikian, itu disebabkan karena ia adalah orang yang amat bakhil semasa hidupnya.” 
 
“Jadi ayah tidak mau menolong ibu…?!” tanya sang anak sengit. “Dasar!!!” itulah kalimat terakhir yang meluncur dari lisan sang anak. 
Sejurus kemudian, anak itu mengambil segelas air dari telaga surga yang ada. Air itu ia bawa untuk ibunya yang berada di neraka. Sesampainya di sana, ia sodorkan air surga itu kepada ibunya. Saat tangan yang memegang gelas itu disorongkan, maka secepat kilat api neraka pun menampar tangannya. Gelas terjatuh, sementara si gadis meraung karena panas yang ia rasakan di tangannya. “Ah…ahhh…ahhh…. panassss!!!” wanita itu mengerang. 
 
Teriakan itu begitu keras terdengar. Keluar dari rongga mulut sekaligus mengguncang tubuhnya. Sontak, ia tersadar. Rupanya ia masih berada di pembaringan! Ia mengerti bahwa ia baru saja bermimpi. Bermimpi berjumpa kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Namun, mengapa tangannya terasa perih? Ia membatin. Wanita itu pun menyingsingkan lengan baju tidurnya. Rasa perih semakin menyayat saat kain baju tersingkap dan menggesek kulit tangannya. 
 
“Masya Allah…!” wanita itu berteriak saat ia lihat tangan kanannya hangus terbakar, terkelupas dan tersayat. Ia menjadi bingung atas kejadian ini. Malam itu ia coba menahan perih. Usai Shubuh, ia pun segera pergi untuk berjumpa Rasul dan menyampaikan apa yang telah berlaku. 
 
“Selamatkan aku, baginda….!” ujar wanita itu memelas. Rasul Saw mulai mengerti apa yang telah berlaku pada wanita itu. Kemudian beliau bersabda, “Ulurkan tanganmu itu!” Tangan itu pun disorongkan. Kemudian Rasul Saw mengambil tongkatnya. Dengan tongkat itu, beliau menyentuh tangan yang terbakar. Rasul Saw berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar wanita itu disembuhkan. Sesaat kemudian, Allah sungguh mengabulkan permintaan nabi-Nya. Tangan itupun berangsur kembali sembuh. 
 
“Perbanyaklah ibadah dan sedekah atas nama ibumu! Semoga Allah Swt menyelamatkan dirinya dari api neraka!” itulah pesan yang beliau sabdakan kepada wanita tersebut. 
 
Ya… sedekah dapat menyelamatkan manusia dari ancaman siksa api neraka! Api neraka yang menyala, membakar dan menyakiti tubuh dapat tertolak dengan sebab sedekah meskipun dalam bentuk kecil. Apa jadinya bila manusia kerap melakukan sedekah itu dalam bentuk besar dan sesering mungkin? 
 
Allah Swt berfirman tentang orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dalam ayat berikut: 
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya” (QS. 92:17-18) 
 
Hal senada juga disampaikan oleh baginda Rasulullah Muhammad Saw dalam sabdanya: 
“Sedekah sungguh akan menyelamatkan seseorang dari panasnya azab kubur. Seorang mukmin pada hari kiamat sungguh akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.” (HR. Thabrani) 
Dalam sabdanya yang lain, beliau bersabda: 
“Bersedekahlah, sungguh sedekah dapat membebaskan kalian dari neraka.” (HR. Thabrani)

December 26, 2007

QS:20(124-127) Thaha

Filed under: Fiqh, Renungan, Journey

Barang siapa yang berpaling dari peringatanku (Alqur’an), maka baginya kehidupan yang sempit dan akan kami halai di hari kiamat nanti dalam keadaan buta. Dia berkata : Ya Tuhanku mengapa engkau menghalau saya dalam keadaan buta sedang dahulunya saya dalam keadaan melihat. Allah berfirman: Demikianlah telah datang kepadamu ayat2 kami maka engkau melupakannya dan demikian pula engkau hari ini dilupakan.

Demikianlah kami membalas orang yang berlebih-lebihan dan tidak mau beriman kepada ayat-ayat Tuhannya dan sesungguhnya siksa akhirat lebih dahsyat dan lebih kekal.

emoticon

Hadis : dari Ali bin Abi Thalib : Barang siapa yang membaca alqu’ran dan mempraktekkan hukum2 yang ada di dalamnya, maka Allah akan  mengampuni dosa-dosanya dan memasukanya ke dalam sorga dan Allah memberikan pertolongan kepadanya sampai 10 keluarga rumah sekitarnya yang semuanya harusnya masuk NERAKA.

PAHALA MEMBACA ALQUR’AN :

Barang siapa yang membaca alquran di dalam shalat, baginya tiap huruf 100 kebaikan. Siapa yang membaca alquran di luar shalat  dan dalam keadaan berudhu’ maka pahala baginya tiap huruf 25 kebaikan. Siapa yang membaca alquran tanpa berudhu’ kepadanya pahala 10 kebaikan.

Jawaban Alfatihah

Filed under: Renungan, Journey

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin : Hambaku memujiku

Arrahmanirrahiem : Hambaku menyanjungku

Malikiyau Middin : Hambaku memulyakanku

Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in : 1/2 untukku 1/2 untuk hambaku

Ihdinasshirathal mustaqiem :  Bagi hambaku apa yang dia minta

Shirothallazina …. : Ini semuanya adalah buat hambaku

 

Sabda Nabi SAW : Apabla engkau baca alfatihah dan surat al ikhlash, maka amanlah engkau dari segala sesuatu kecuali maut.

 

Shalat Malam : 9 kemulyaan ( 5 dunia dan 4 akhirat)

Filed under: Fiqh, Renungan, Journey

Siapa yang mengerjakan shalat malam, Tuhan akan memulyakannya dengan 9 kemulyaan (5 di dunia dan 4 di akhirat kelak) :

  1. Dia dijaga oleh dari semacam bencana
  2. Ketaatannya akan terpancar di wajahnya
  3. Dia akan disukai oleh hamba2 Allah yang shaleh dan semua manusia
  4. Lidahnya selalu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah
  5. Diaa dijadika orang yang bijaksana dan diberi rezki
  1. Daia dikeluarkan dari kuburnya dengan wajah putih bersih
  2. Dia dimudahkan hisabnya
  3. Melalui shiratal mustaqiem dengan secepat kilat
  4. Catatan amalnya diberikan dengan tangan kanan
  • Shalat 2 rakaat sebelum shubuh, lebih baik dari dunia dan seisinya
  • Takbir pertama dari setiap shalat lebih baik dari dunia dan seisinya. Seandainya dunia dan isinya kepunyaan kita lalu kita disamakan
  •  Kata Nabi : Sahalat di awal waktu, taubat sebelum ajal.

Istiqomah

Filed under: Fiqh, Renungan, Journey, God Spot

Arti istiqomah :

  1. Kata Bau Bakar : Istriqomah adalahJangan mempersebutukan Allah dengan sestupun
  2. Kata Umar : Istiqomah adalah hendaklah kamu lurus/benar dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah
  3. Kata Usman bin Affan : Istiqomah adalah  Ikhlas
  4. kata Ali bin Abi Thalib : IstiqomaH adalah menunaikan semua fardhu dan kewajiban
  5. Kata orang-orang yang ahli dalam Istiqomah ada 3 macam
  1. istiqomah dengan lidah, yaitu selalu membaca syahadat
  2. istiqomah dengan hati keimanan itu selalu kepada kejujuran/kebenaran
  3. istiqomah dengan diri yaitu taat beribadah

 

6. Kata ulama, istiqomah itu ada 4 macam :

  1. Taat menjalankan perintah
  2. menjaga diri dalam menghadapi larangan
  3. bersyukur dalam menerima nikmat
  4. bersabar guna menghadapi syurga

 Sempurnanya 4 istiqomah itu dengan 4 pula

 

  1. sempurnanya taat denganikhlas
  2. sempurnanya taat dengan tobat
  3. sempurnya syukur dengan mengetahui kelemahan
  4. sempurnanya sabar dengan penyerahan diri kepada Allah
 

Doa tidak terkabul

Filed under: Fiqh, Renungan

Kata Ibrahim bin Adham : Doa tidak akan terkabul apabila hati ditutupi olrh 10 perkara :

  1. Kamu beriman kepada Allah, akan tetapi kamu tidak memenuhi akan hak-hakNya
  2. Kamu sekalian telah membaca Al Quran tetapi kamu tidak mengerjakan apa-apa yang ditunjukkan alquran tersebut
  3. Kamu sekalian mengaku cinta kepada Rasul Allah, akan tetapi kamu mengu=ingkari sunnahnya
  4. Kamu sekalian mengaku bermusuhan dengan syetan, tetapi kamu taat dan menyetujui perbuatannya
  5. Kamu mengaku akan masuk surga, akan tetapi kamu melalaikan perbutanan untuk masuk surga tersebut
  6. Kamu mengaku selamat dari neraka, akan tetapi kamu menceburkan dirimu ke dalam neraka
  7. Kamu mengetahui bahwa mati itu pasti datang, akan tetapi kamu tidak bersiap untuk mati tersebut
  8. Kamu sekalian sibuk mengurusi cela Saudaramu, akan tetapi kamu tidak mau tahu dengan celamu sendiri
  9. Kamu selalu memohon Rahmat Allah, akan tetapi kamu tidak bersyukur kepadaNya
  10. Kamu sekalian telah mengubur orang yang telah mati, akan tetapi tidak mengambil pengajaran daripadanya.

7 hal menerangi Kubur

Filed under: Renungan

Tujuh hal yang bisa menerangi kubur nanti adalah :

  1.  Ikhlas dalam beribadah (QS:  ) dan tidaklah mereka itu disuruh, kecuali menyembah kepada Allah serta berlaku ikhlas kepadaNya dalam urusan agama
  2. Berbuat baik kepada kedua orang tua (QS:  )Sembahlah Allah dan janganlah engkau persekutukan dia dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua ibu dan bapa.
  3. Menyambungka silaturrahmi
  4. Jangan menyia-nyiakan umur untuk berbuat durhaka. QS :  Dan takutlah olehmu suatu hari yang kamu sekalian dikembalikan kepada Allah
  5. Janganlah memperturutkan hawa nafsu : QS : Wahai orang beriman : jagalah dirimu dan keluargamu dari siksaan api neraka
  6. Hendaklah s=dia sungguh-sungguh taat beribadah
  7. Hendaklah perbanyak zikir kepada Allah. QS Wahai orang-orang beriman, Ingatlah kamu kepada Allah dengan berzikir sebanyak-banyaknya.

Pelihara 7 kalimat

Filed under: Fiqh, Renungan, God Spot

Seorang Ahli Fiqih (Abal Laisy) berkata :

Brang siapa yang menjaga 7 kalimat, maka dia adalah orang yang mulia di sisi Allah dan di kalangan para Malaikat., Bahkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun dosanya sebanyak buih di laut dan dia akan mendapatkan ketenteramannya, taatnya dan juga hidup dan matinya akan menjadi baik :

  1. Setiap memulai pekerjaan membaca Bismillah
  2. Setiap selesai melakukan pekerjaan mengucap Alhamdulillah
  3. Apabila terlontar di  lidahnya kata-kata yang tidak berarti, dia ucap Subhanallah
  4. Apabila dia akan mengerjakan pekerjaan sifatnya yang akan datang, dia mengucapkan Insyaallah
  5. Apabila datang kepadanya suatu perbuatan yang dibenci, tidak disukai maka dia membaca La Haula wa la Quqqata illa billahil ‘aliyul adhim
  6. Apabila dia ditimpa musibah, dia membaca Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un
  7. Pada setiap hari siang dan malam lidahnya selalu dibasahi oleh kalimah : La ilaha illallah





















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M